Nabi Adam as: Awal Mula Penciptaan, Pembangkangan Iblis, dan Kepintaran Nabi Adām as #1

Nabi Adam as
Awal Mula Penciptaan, Pembangkangan Iblis, dan Kepintaran Nabi Adām as
Chapter #1
Kisah Nabi Adam as
Kisah Nabi Adam as

Pendahuluan
Awal Mula Penciptaan Manusia
Awal mula penciptaan manusia menjadikan para malaikat khawatir. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah swt dalam Surah al-Baqarah/2: 30:

Artinya : “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." [QS. Al-Baqarah/2: 30]


             Ayat di atas menceritakan tentang pernyataan malaikat kepada Allah swt yang hendak menciptakan manusia. Para malaikat mengatakan bahwa manusia hanya akan menumpahkan darah serta membuat kerusakan di muka bumi. Sangat berbeda dengan golongan malaikat yang diciptakan hanya untuk patuh dan tunduk kepada Allah swt. Dan ayat ini pun ditutup bahwa Allah swt lebih mengetahui daripada siapapun dan apapun.
            Ayat ini  menimbulkan pertanyaan seperti, kenapa malaikat mengatakan bahwa manusia akan merusak dan menumpahkan darah. Apakah pernah ada manusia sebelumnya sehingga malaikat berkata demikian. Pertanyaan-pertanyaan semacam inilah yang seringkali muncul bila ayat 30 dari Surah al-Baqarah ini diperbincangkan.
            Ucapan malaikat dalam al-Qur’an Surah al-Baqarah/2:30 tersebut tidak dimaksudkan untuk protes bahkan menentang Allah swt.[1] Ucapan itu merupakan meminta informasi dan pengetahuan tentang hikmah penciptaan manusia. Karena jika Allah swt menciptakan manusia hanya dengan tujuan untuk disembah, maka cukup lah golongan malaikat saja yang tidak pernah lalai untuk memuji Allah swt.
            Sesungguhnya sebelum kalifah –dalam hal ini manusia– diciptakan ada jin yang menghuni bumi. Mereka lah yang membuat kerusakan dan saling menumpahkan darah di bumi Allah swt.[2] Hal inilah yang membuat para malaikat mengibaratkan manusia seperti jin yang akan menimbulkan kerusakan dan menumpahkan darah.[3]
Ayat tersebut ditutup dengan “Sesungghunya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui.” Maksudnya adalah Allah swt mengetahui segala hal-hal yang tidak diketahui. Sesungguhnya Allah swt menciptakan manusia agar mereka menjadi pengganti Allah swt dalam memutuskan hukun secara adil di kalangan makhluk.[4] Dan di antara mereka akan menjadi nabi-nabi, rasul-rasul, ṣiddiqīn, syuhada, orang-orang saleh, zuhud, para wali, orang-orang bertakwa yang cinta kepada Allah swt.[5]
                Nah seperti itulah sedikit maksud dari ayat ini. Untuk lebih jelasnya bisa dibuka pada kitab-kitab tafsir atau pun mencari pada referensi lainnya.

Penciptaan Nabi Adam as
Allah swt berfirman dalam Surah Ali Imrān/3: 59 tentang perciptaan Nabi Adam as, yaitu:
   
Artinya: Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia), Maka jadilah Dia.[QS. Ali Imrān/3: 59].
Ayat ini bercerita tentang bagaimana asal mula manusia pertama diciptakan. Manusia pertama –dalam hal ini Adām– diciptakan dari tanah[6] yang kemudian Allah swt berfirman: "Jadilah" (seorang manusia), Maka jadilah Dia. Ayat ini menunjukkan betapa kuasanya Allah swt akan segala sesuatu. Penciptaan Nabi Adām as dari tanah dapat ditemukan juga dalam Surah al-Hijr/__: 28-19.
Allah swt menciptakan Adām tanpa seorang ayah dan seorang ibu. Jika ada jalan yang mendakwakan ‘Isā adalah anak Tuhan karena dia diciptakan tanpa seorang ayah, maka Adām jauh lebih hebat, karena dia diciptakan tanpa ayah dan ibu.[7]

Perintah Allah swt untuk Bersujud Kepada Nabi Adām as dan Pembangkangan Iblis
Setelah penciptaan Nabi Adām as selesai, Allah swt memerintahkan kepada malaikat untuk bersujud kepada Nabi Adām as. Hal ini terlihat dalam beberapa surah al-Qur’an yang memerintahkan hal tersebut. Di antara ayat al-Qur’an tersebut adalah:
Surah al-Baqarah/2: 34, yaitu:

Artinya: dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada Para Malaikat: "Sujudlah[36] kamu kepada Adam," Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia Termasuk golongan orang-orang yang kafir.” [QS. Al-Baqarah/2: 34].
Surah al-A‘rāf/7: 11, yaitu:
    
Artinya: Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada Para Malaikat: "Bersujudlah kamu kepada Adam", Maka merekapun bersujud kecuali iblis. Dia tidak Termasuk mereka yang bersujud.[QS. Al-A‘rāf/7: 11].
            Allah swt mengingatkan kepada Bani Adām (manusia) tentang kemuliaan Nabi Adām as. Allah swt juga menjelaskan perihal siapa musuh manusia, yaitu iblis yang enggan untuk tunduk bersujud kepada Nabi Adām as. Jadi secara jelas disebutkan bahwa iblis membangkang dan menjadi musuh bagi manusia. Lihat juga: Al-Isrā’/17: 61, Al-Kahfi/18: 50, aha/20: 116.
            Iblis membangkang kepada Allah swt. Dengan kesombongannya dia enggan untuk sujud kepada Nabi Adām as. Hal ini dijelaskan dalam lanjutan Surah al-A‘rāf/7: 12, yaitu:
  
Artinya: Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu aku menyuruhmu?" Menjawab iblis "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang Dia Engkau ciptakan dari tanah." [QS. Al-A‘rāf/7: 12].
Iblis merasa bahwa dirinya jauh lebih baik daripada Nabi Adām as, karena perbedaan material penciptaannya. Iblis merasa api jauh lebih baik dibanding tanah. Dari sini maka ada pelajaran yang bisa diambil, yaitu sifat api yang terus saja mendongkak ke atas. Begitulah sifat sombong. Api memunyai watak membakar, liar, dan juga cepat. Sedangkan watak tanah liat itu adalah kuat, sabar, tenang, serta kokoh.[8]
            Iblis telah menjadi musuh yang nyata bagi Bani Adām. Ini ditegaskan dalam beberapa ayat al-Qur’an, di antaranya:
Surah Yasīn/36: 60, yaitu:

Artinya: “Bukankah aku telah memerintahkan kepadamu Hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu." [QS. Yasīn/36: 60].
Surah al-Fāṭr/35: 6, yaitu:

Artinya: Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, Maka anggaplah ia musuh(mu), karena Sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” [QS. Al-Fāṭr/35: 6].


Kecerdasan Nabi Adām as
Allah swt mengajarkan pengetahuan kepada Nabi Adām as. Allah swt mengajarkan nama-nama kepadanya. Bahkan kepintaran Nabi Adām as ini mengalahkan para malaikat. Allah swt berfirman dalam Surah al-Baqarah/2: 31-33, yaitu:
   
Aritnya: “Dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!" [QS. Al-Baqarah/2: 31].


Artinya: “Mereka menjawab: "Maha suci Engkau, tidak ada yang Kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana." [QS. Al-Baqarah/2: 32].


Artinya:  “Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka Nama-nama benda ini." Maka setelah diberitahukannya kepada mereka Nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa Sesungguhnya aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?" [QS. Al-Baqarah/2: 33].

***





[1] Al-Imam Abul Fida Isma’il Ibn Katsir ad-Dimasyqi, Tafsir Ibn Kaṡir jilid I, penerjemah: Bahrun Abu Bakar (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2000), h. 361.
[2] Abī ‘Abd Allāh Muḥammad ib Aḥmad ibn Abī Bakr al-Qurṭubī (selanjutnya akan disebut al-Qurṭubi), al-Jāmi‘ al-Aḥkām al-Qur’ān, jilid I, tahqīq: ‘Abd Allāh ibn ‘Abd al-Ḥasan al-Tarakī (Beirut: Mu’sasat al-Risalah, 2006 M), h. 409.
[3] Abī Ja‘far Muḥammad ibn Jarīr al-Ṭabarī (selanjutnya akan disebut al-Ṭabarī), Tafsīr al-Ṭabarī Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta;wīl Ay al-Qur’ān, jilid I tahqīq: ‘Abd Allāh ibn ‘Abd al-Ḥasan al-Tarakī (Mesir: 2001 M, Liṭṭabā‘at wa al-Nasyar wa al-Tawzī‘ wa I‘lān), h. 482-483.
[4] Al-Imam Abul Fida Isma’il Ibn Katsir ad-Dimasyqi, Tafsir Ibn Kaṡir jilid I, h. 365. Lihat juga: al-Ṭabarī, Tafsīr al-Ṭabarī, jilid I, h. 476.
[5] Al-Imam Abul Fida Isma’il Ibn Katsir ad-Dimasyqi, Tafsir Ibn Kaṡir jilid I, h. 362.
[6] Al-Ṭabarī, Tafsīr al-Ṭabarī, jilid V, h. 459. Lihat juga: al-Qurṭubi, al-Jāmi‘ al-Aḥkām al-Qur’ān, jilid V, h. 156.
[7] Al-Imam Abul Fida Isma’il Ibn Katsir ad-Dimasyqi, Tafsir Ibn Kaṡir, jilid III, h. 397.
[8] Al-Imam Abul Fida Isma’il Ibn Katsir ad-Dimasyqi, Tafsir Ibn Kaṡir, jilid VIII, h. 247.

Post a Comment

0 Comments